Oleh
Akhmad Ryan Pratama[1]
Air merupakan kebutuhan paling
utama yang harus dipenuhi oleh seluruh mahkluk hidup di muka bumi ini untuk
kelangsungan hidupnya. Sejarah sudah membuktikan bahwa hampir seluruh peradaban
besar, seperti peradaban Mesir kuno, Mesopotamia lahir di tempat yang memiliki
ketersediaan air yang cukup. Air tidak bisa dilepaskan dari kehidupan
sehari-hari manusia. Petaka akan terjadi apabila ketersediaan air tidak lagi
bisa diakses dengan mudah dan efisien. Sungguh tidak bisa dibayangkan apabila
air sangat sulit diperoleh, terelebih ketika air bersih memiliki harga yang
sangat mahal. Langkanya air akan berakibat kepada perekonomian kota,
harga-harga barang akan mahal karena hampir seluruh proses produksi memerlukan
air. Biaya pengeluaran dalam lingkup rumah tanggapun akan meningkat, karena
sebagian besar konsumsinya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Sejak tahun 1970an Balikpapan
merupakan salah satu kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi tercepat di
Kalimantan Timur. Balikpapan mampu tumbuh dengan sangat cepat akibat
berkembangnya berbagai macam industri, terutama industri minyak dan industri
kehutanan yang berkembang antara tahun 1970 hingga akhir tahun 1980an. Untuk
menjamin perkembangan perekonomian kota Balikpapan yang berbasiskan sektor industri
dan jasa, maka setidaknya kebutuhan akan air bersih harus selalu terpenuhi
serta terjamin distribusinya. Disamping tersedianya sarana infrastruktur dan
transportasi yang memadai.
Bersamaan dengan munculnya industri
tersebut maka Balikpapan juga mengalami peningkatan jumlah penduduk.
Meningkatnya jumlah penduduk terjadi sangat pesat, dan merupakan yang tertinggi
di Kalimantan Timur. Sebagai gambaran, pada tahun 1970 jumlah penduduk Balikpapan
hanya 137 ribu jiwa, dan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu
10 tahun menjadi 280 ribu jiwa pada tahun 1980. Peningkatan jumlah penduduk
tentu saja diikuti dengan meningkatkanya jumlah permintaan akan air bersih.
Pemenuhan kebutuhan air bersih di
Balikpapan sebenarnya sudah diusahakan sejak zaman pemerintah kolonial Belanda.
Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda sudah memanfaatkan air yang berasal
dari Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW)
untuk kepentingan industri minyaknya. Kemudian pada tahun 1970an, Pertamina
mulai membangun instalasi yang cukup lengkap untuk mengalirkan air dari HLSW ke
kilang minyak beserta perumahan karyawan Pertamina yang berada di kawasan teluk
Balikpapan.
| HLSW tumpuan sumber air kota Balikpapan, lestarikan! |
Selama kurun waktu 1976 hingga 1981
setiap tahunnya pelanggan pengguna air bersih meningkat lebih dari 25%.
Peningkatan jumlah penggunaan air bersih dari tahun ke tahun tersebut tidak
bisa lagi dicukupi hanya dengan mengandalkan sumur-sumur air dangkal
berkapasitas 10 liter perdetik di Gunung Sari milik Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM). Peningkatan itu pula yang
kemudian memaksa pemerintah kota Balikpapan untuk membuat waduk di Manggar
Besar pada tahun 1981. Program yang didanai oleh dana APBN dan pinjaman dari
pemerintah Belanda itu selesai pada tahun 1984, akhirnya Balikpapan memiliki kemampuan kapasitas produksi air bersih
sebesar 400 liter perdetik.
Namun,
perkembangan kota Balikpapan begitu cepat, setiap tahun kota Balikpapan
mengalami peningkatan jumlah permintaan air bersih. Peningkatan jumlah
permintaan air bersih itu tidak sebanding dengan kemampuan PDAM dalam
menyediakan air bersih. Pada tahun 2000 PDAM kota Balikpapan berhasil
meningkatkan kapasitas air bersihnya menjadi 800 liter perdetik. Walaupun sudah
terjadi peningkatan dalam hal produksi, namun tetap saja saat musim kemarau
distribusi air bersih tidak selalu tersedia. Kondisi gangguan distribusi air
terus berlangsung sejak tahun 1990an hingga saat ini. Gangguan distribusi air
bersih ini tidak hanya meresahkan masyarakat, tetapi juga mengurangi
produktivitas ekonomi di kota Balikpapan.
Berbeda dengan Samarinda yang
dialiri oleh sungai Mahakam, Balikpapan tidak memiliki sungai besar yang airnya
tetap ada ketika musim kemarau. Balikpapan tetap mengandalkan waduk untuk
menampung air pada saat musim penghujan. Pemerintah Balikpapan selalu berupaya
untuk menyelesaikan permasalahan air bersih yang tidak ada habisnya ini dengan
beberapa solusi. Langkah paling utama
dan paling memungkinkan ialah dengan membuat waduk baru dengan kaapasitas lebih
besar dari waduk teritip dan waduk sungai. Alternatif lain yang saat ini sedang dikembangkan ialah
dengan mengubah air laut menjadi air tawar dengan teknologi reverse osmosis. Mengubah air laut
menjadi air tawar dengan teknologi reverse
osmosis membuat biaya produksi PDAM jauh lebih mahal dua kali lipat dibandingkan teknologi
konvesional yang saat ini digunakan.
![]() |
| Waduk Hutan Lindung Sungai Wain |
Pemerintah kota Balikpapan juga
harus aktif dalam melindungi daerah tangkapan air, seperti penambahan daerah
kawasan hutan lindung. Fungsi daerah tangkapan air berupa hutan ini sangatlah
penting, selain menjaga debit air tetap stabil pada musim kemarau, hutan juga
berfungsi untuk mencegah banjir dan tanah longsor. Proses pengalihfungsian kawasan
hutan bakau untuk keperluan industri di teluk Balikpapan juga sebenarnya
mengkhawatirkan. Selain mengancam kelestarian satwa, hilangnya vegetasi bakau
akan mengakibatkan masuknya air laut ke daratan. Akibatnya sumur air tawar akan
semakin payau dan tidak layak dikonsumsi akibat intrusi air laut.
Selain
mencari solusi dengan meningkatkan kapasitas produksi air bersih PDAM, dan
menjaga daerah konservasi tangkapan air, pemerintah kota Balikpapan juga harus aktif
menghimbau masyarakat untuk melakukan efisiensi dalam menggunakan air bersih. Budaya
penggunaan air juga turut menentukan peningkatan volume penggunaan air bersih. Sebuah
studi yang dilakukan oleh Sulistyoweni Widanarko menyebutkan bahwa rata-rata
pemakaian air orang Indonesia di kota-kota besar sehari bisa lebih dari 250
liter. Bandingkan dengan rata-rata pemakaian air oleh orang Singapura yang sehari
hanya menggunakan 150 liter. PDAM mungkin juga bisa memberikan sebuah ukuran
yang riil mengenai standardisasi pemakaian air setiap orang salama satu bulan.
Semisal satu bulan setiap orang hanya dijatah mengkonsumsi air 4500 liter.
Namun, apabila orang tersebut mengkonsumsi air lebih dari 4500 liter, maka
tarif pungutan air setelah itu dinaikkan dua kali lipat per m3.
![]() |
| Kondisi Hutan Lindung Sungai Wain, sebagai sumber daerah tangkapan air utama kota Balikpapan |
Menjaga
ketersediaan air bagi generasi yang akan datang merupakan tugas bersama. Air
memiliki fungsi yang sangat vital bagi keberlangsungan pembangunan dan
perkembangan di kota Balikpapan. Sudah sepantasnya kita memposisikan air
sebagai karunia Tuhan yang berharga. Permasalahan mengatasi kekurangan air
bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota Balikpapan saja, sebagai masyarakat
kita dapat berperan aktif dengan menggunakan air sehemat dan seefisien mungkin.
Penggunaan air juga bukan lagi terkait dengan kemampuan kita dapat membayar
tagihan PDAM atau tidak, seperti ketika memakai air dengan boros karena merasa
sanggup membayar tagihan. Jauh lebih penting lagi ialah bagaimana kita masih
bisa, memikirkan, dan melestarikan serta
menjamin bahwa sumber-sumber air berssih masih ada untuk generasi mendatang.
* Tulisan ini sudah dimuat di harian Kaltim Post 25 dan 26 Februari 2016
[1]
Dosen Luar Biasa pada Sekolah Entrepreneurship
dan Humaniora, Universitas Ciputra, Surabaya. Memiliki minat terhadap kajian
sejarah lingkungan, ekonomi, dan perkotaan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar