Selasa, 08 Desember 2015

Siapa Sebenarnya yang Merusak Hutan?!

Bukanlah sebuah rahasia umum lagi pada tahun 1997 - 1998 ketika terjadi kebakaran hutan terbesar di dunia yang disalahkan oleh rezim Orde Baru sebagai penyebab kebakaran adalah orang-orang Dayak yang menggunakan tradisi pertanian ladang berpindah, atau swidden farming. Kebakaran tersebut sebagian besar menghanguskan hutan yang ada di Kalimantan Timur, dan hingga saat ini sisa-sisa kebakaran hutan teresebut masih bisa dilihat apabila anda berpegian menggunakan jalur darat dengan melewati rute jalan Samarinda - Balikpapan.

Lantas apakah benar tuduhan itu, bahwa orang-orang Dayak yang sudah bermukim ratusan tahun itu menjadi penyebab kebakaran hutan tersebut?! Ternyata propaganda Orde Baru (dan mungkin diteruskan oleh rezim pemerintah daerah setelahnya) yang menyalahkan masyarakat Dayak sebagai perusak hutan itu tidaklah benar. Dalam sebuah penelitian etnobiologi Mark Poffenberger menununjukkan fakta yang sebaliknya. Orang-orang Dayak sudah memiliki kearifan lokal dalam menggunakan hutan mereka, sehingga kebakaran hutan dalam skala besar tidak akan bisa terjadi. Kebakaran hutan terbesar pertama kali terjadi tahun 1982 - 1983 di Kalimantan yang menghanguskan lahan seluas negara Belgia.Kebakaran hutan ini muncul setelah eksploitasi hutan secara massif dilakukan oleh Orde Baru. Selama ratusan tahun orang-orang Dayak sudah menerapkan praktek ladang berpindah, dan tidak pernah terjadi kebakaran sehebat saat ini.


Sebagai ilustrasi orang-orang Dayak Benuaq sudah mampu membuat bagan daur hidup hutan. Mereka tahu, butuh waktu berapa lama hingga hutan bisa pulih ke keadaan semula. Rata-rata pemulihan hutan untuk bisa menjadi hutan primer membutuhkan waktu 100 tahun lebih, bandingkan dengan itung-itungan ala perusahaan yang dilakukan ilmuwan Orde Baru, yang mampu mengkalkulasikan bahwa dalam 35 tahun kemudian hutan yang mereka babat akan kembali seperti semula. Tapi pada akhirnya, kalkulasi ilmuwan "modern" itu meleset, dan membuat luas tutupan hutan semakin berkurang drastis.

Celakanya lagi, dalam penelitian saya, tindakan eksploitasi hutan secara massif dan tuduhan bahwa orang-orang Dayak merusak hutan juga dilindungi oleh ilmuwan-ilmuwan yang sekolah di universitas-universitas negeri "terbaik" di Indonesia. Kejadian ini akan terus berulang selama pola "pembangunan" masih menggunakan sudut pandang orang-orang "kota". Dimana ukuran kesejahteraan dan pembangunan ditentukan dengan banyaknya mall yang dibangun, banyaknya hutan yang dikonversi jadi perumahan, banyaknya orang yang bisa makan direstoran fast food. Pembangunan negeri ini tidak pernah menghitung investasi jangka panjang yang tidak bisa diukur dengan uang sebagai salah satu bentuk keuntungan, seperti konservasi hutan. Konservasi hutan dianggap tidak menguntukan secara politis karena air dan udara bersih yang dihasilkan tidak bisa diuangakan. Akhirnya jangan salahkan televisi dan media, apabila akhirnya anda disuguhi tontonan drama opera sabun para wakil rakyat, dan birokrat negeri ini yang nuraninya sudah hilang entah kemana.

Kaliurang, ditemani kopi robusta 9 Desember 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar