Selasa, 08 Desember 2015

"Invasi" Jepang Dalam Sektor Kehutanan di Kalimantan Timur


Pada tanggal 21 Desember 1962, terjadi penandatanganan persetujuan perjanjian survei bersama antara Jepang, dan Indonesia untuk melakukan studi kelayakan terhadap hutan di Kalimantan Timur. Delapan hari setelah penandatanganan perjanjian itu, pada tanggal 29 desember 1962 juga ditandatangani persetujuan persiapan antara Jepang dan Indonesia untuk membangun proyek eksploitasi hutan di Kalimantan Timur. Dari perjanjian-perjanjian itu, kemudian diadakan survei lapangan di Nunukan, dan hasilnya telah diserahkan kepada pemerintah pada bulan Maret 1965.

Kerjasama pertama kali antara Jepang dengan pemerintah Indonesia dalam industri eksploitasi hutan skala besar ialah pembentukan Kalimantan Forest Development Corporation. Perusahaan Jepang yang berbasis industri kehutanan membentuk perusahaan ini pada tahun 1963. Perusahaan ini dibentuk untuk membantu Perhutani dalam melakukan eksploitasi hutan di luar Jawa, khususnya Kalimantan Timur. Jepang akan membantu investasi dalam berbagai hal, termasuk pinjaman kredit, bantuan perelatan dan perlengkapan, termasuk juga bantuan teknis berupa sumber daya manusia. Sebagai gantinya, Perhutani menyetujui untuk mengekspor minimal 70% dari hasil produksi kehutanan (terutama log) ke Jepang. Adanya pembentukan perusahaan gabungan ini ialah, untuk mengamankan kebutuhan Jepang akan bahan mentah (terutama log) guna keperluan industri kehutanannya.

Secara riil mungkin Jepang mampu mempertahankan cakupan luas tutupan hutannya lebih dari 65%, namun untuk memenuhi kebutuhan kayu pada masa itu Jepang harus membabat habis hutan-hutan yang ada di Filipina, Serawak dan Sabah (Malaysia), serta Kalimantan Timur. Hingga saat ini hutan yang telah ditebang telah menjadi bekas hutan hijau tropis, tanpa ada yang tahu dengan pasti kapan hutan ini akan kembali hijau. Inilah yang disebut dengan shadow of ecology, bagaimana negara maju yang terlihat mampu menjaga sumber daya alamnya, ternyata dalam praktek riilnya mereka mengeksploitasi (kalau tidak mau dikatakan merusak) sumber daya alam negara-negara dunia ke 3, dan bodohnya lagi, birokrat kita hati dan nuraninya sudah tertutup, sehingga tidak malu lagi menggadaikan bangsa ini demi kesenangan yang "fana".
Wa'Allahualam Bishawab.
Kaliurang, ditengah gemercik suara hujan, 8 Desember 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar