Pada tanggal 21 Desember 1962, terjadi penandatanganan persetujuan
perjanjian survei bersama antara Jepang, dan Indonesia untuk melakukan
studi kelayakan terhadap hutan di Kalimantan Timur. Delapan hari setelah
penandatanganan perjanjian itu, pada tanggal 29 desember 1962 juga
ditandatangani persetujuan persiapan antara Jepang dan Indonesia untuk
membangun proyek eksploitasi hutan di Kalimantan Timur. Dari
perjanjian-perjanjian itu, kemudian diadakan survei lapangan di Nunukan, dan hasilnya telah diserahkan kepada pemerintah pada bulan Maret 1965.
Kerjasama pertama kali antara Jepang dengan pemerintah Indonesia dalam
industri eksploitasi hutan skala besar ialah pembentukan Kalimantan
Forest Development Corporation. Perusahaan Jepang yang berbasis industri
kehutanan membentuk perusahaan ini pada tahun 1963. Perusahaan ini
dibentuk untuk membantu Perhutani dalam melakukan eksploitasi hutan di
luar Jawa, khususnya Kalimantan Timur. Jepang akan membantu investasi
dalam berbagai hal, termasuk pinjaman kredit, bantuan perelatan dan
perlengkapan, termasuk juga bantuan teknis berupa sumber daya manusia.
Sebagai gantinya, Perhutani menyetujui untuk mengekspor minimal 70% dari
hasil produksi kehutanan (terutama log) ke Jepang. Adanya pembentukan
perusahaan gabungan ini ialah, untuk mengamankan kebutuhan Jepang akan
bahan mentah (terutama log) guna keperluan industri kehutanannya.
Secara riil mungkin Jepang mampu mempertahankan cakupan luas tutupan
hutannya lebih dari 65%, namun untuk memenuhi kebutuhan kayu pada masa
itu Jepang harus membabat habis hutan-hutan yang ada di Filipina,
Serawak dan Sabah (Malaysia), serta Kalimantan Timur. Hingga saat ini
hutan yang telah ditebang telah menjadi bekas hutan hijau tropis, tanpa
ada yang tahu dengan pasti kapan hutan ini akan kembali hijau. Inilah
yang disebut dengan shadow of ecology, bagaimana negara maju yang
terlihat mampu menjaga sumber daya alamnya, ternyata dalam praktek
riilnya mereka mengeksploitasi (kalau tidak mau dikatakan merusak)
sumber daya alam negara-negara dunia ke 3, dan bodohnya lagi, birokrat
kita hati dan nuraninya sudah tertutup, sehingga tidak malu lagi
menggadaikan bangsa ini demi kesenangan yang "fana".
Wa'Allahualam Bishawab.
Kaliurang, ditengah gemercik suara hujan, 8 Desember 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar