Selasa, 08 Desember 2015

Borneo Sebuah Puisi

Borneo

Alammu kaya
Tetapi kau miskin
Hutanmu lebat
Tetapi tak terawat



Kandungan perutmu,
Bukan janin jabang bayi,
Benih-benih penyesak bumi
Tapi segala bijih-bijih murni,
Dan lendir fosil energi,
Yang membuat silau, petualangan memantau. . 

Kau bukan lagi perawan
Setelah kegadisanmu hilang
Bukan karena bercinta
Bukan karena senggama
Atau diperkosa. . .

Tapi dikoyak tangan-tangan rakus
Yang tak menyisakan nikmat
Bahkan tak pernah peduli makna martabat.

[Dikutip dari buku, "Impian Perawan: Kumpulan Cerpen", karya Nugroho Suksmanto, Hlm 77 - 78]

"Invasi" Jepang Dalam Sektor Kehutanan di Kalimantan Timur


Pada tanggal 21 Desember 1962, terjadi penandatanganan persetujuan perjanjian survei bersama antara Jepang, dan Indonesia untuk melakukan studi kelayakan terhadap hutan di Kalimantan Timur. Delapan hari setelah penandatanganan perjanjian itu, pada tanggal 29 desember 1962 juga ditandatangani persetujuan persiapan antara Jepang dan Indonesia untuk membangun proyek eksploitasi hutan di Kalimantan Timur. Dari perjanjian-perjanjian itu, kemudian diadakan survei lapangan di Nunukan, dan hasilnya telah diserahkan kepada pemerintah pada bulan Maret 1965.

Kerjasama pertama kali antara Jepang dengan pemerintah Indonesia dalam industri eksploitasi hutan skala besar ialah pembentukan Kalimantan Forest Development Corporation. Perusahaan Jepang yang berbasis industri kehutanan membentuk perusahaan ini pada tahun 1963. Perusahaan ini dibentuk untuk membantu Perhutani dalam melakukan eksploitasi hutan di luar Jawa, khususnya Kalimantan Timur. Jepang akan membantu investasi dalam berbagai hal, termasuk pinjaman kredit, bantuan perelatan dan perlengkapan, termasuk juga bantuan teknis berupa sumber daya manusia. Sebagai gantinya, Perhutani menyetujui untuk mengekspor minimal 70% dari hasil produksi kehutanan (terutama log) ke Jepang. Adanya pembentukan perusahaan gabungan ini ialah, untuk mengamankan kebutuhan Jepang akan bahan mentah (terutama log) guna keperluan industri kehutanannya.

Secara riil mungkin Jepang mampu mempertahankan cakupan luas tutupan hutannya lebih dari 65%, namun untuk memenuhi kebutuhan kayu pada masa itu Jepang harus membabat habis hutan-hutan yang ada di Filipina, Serawak dan Sabah (Malaysia), serta Kalimantan Timur. Hingga saat ini hutan yang telah ditebang telah menjadi bekas hutan hijau tropis, tanpa ada yang tahu dengan pasti kapan hutan ini akan kembali hijau. Inilah yang disebut dengan shadow of ecology, bagaimana negara maju yang terlihat mampu menjaga sumber daya alamnya, ternyata dalam praktek riilnya mereka mengeksploitasi (kalau tidak mau dikatakan merusak) sumber daya alam negara-negara dunia ke 3, dan bodohnya lagi, birokrat kita hati dan nuraninya sudah tertutup, sehingga tidak malu lagi menggadaikan bangsa ini demi kesenangan yang "fana".
Wa'Allahualam Bishawab.
Kaliurang, ditengah gemercik suara hujan, 8 Desember 2015.

Siapa Sebenarnya yang Merusak Hutan?!

Bukanlah sebuah rahasia umum lagi pada tahun 1997 - 1998 ketika terjadi kebakaran hutan terbesar di dunia yang disalahkan oleh rezim Orde Baru sebagai penyebab kebakaran adalah orang-orang Dayak yang menggunakan tradisi pertanian ladang berpindah, atau swidden farming. Kebakaran tersebut sebagian besar menghanguskan hutan yang ada di Kalimantan Timur, dan hingga saat ini sisa-sisa kebakaran hutan teresebut masih bisa dilihat apabila anda berpegian menggunakan jalur darat dengan melewati rute jalan Samarinda - Balikpapan.

Lantas apakah benar tuduhan itu, bahwa orang-orang Dayak yang sudah bermukim ratusan tahun itu menjadi penyebab kebakaran hutan tersebut?! Ternyata propaganda Orde Baru (dan mungkin diteruskan oleh rezim pemerintah daerah setelahnya) yang menyalahkan masyarakat Dayak sebagai perusak hutan itu tidaklah benar. Dalam sebuah penelitian etnobiologi Mark Poffenberger menununjukkan fakta yang sebaliknya. Orang-orang Dayak sudah memiliki kearifan lokal dalam menggunakan hutan mereka, sehingga kebakaran hutan dalam skala besar tidak akan bisa terjadi. Kebakaran hutan terbesar pertama kali terjadi tahun 1982 - 1983 di Kalimantan yang menghanguskan lahan seluas negara Belgia.Kebakaran hutan ini muncul setelah eksploitasi hutan secara massif dilakukan oleh Orde Baru. Selama ratusan tahun orang-orang Dayak sudah menerapkan praktek ladang berpindah, dan tidak pernah terjadi kebakaran sehebat saat ini.


Sebagai ilustrasi orang-orang Dayak Benuaq sudah mampu membuat bagan daur hidup hutan. Mereka tahu, butuh waktu berapa lama hingga hutan bisa pulih ke keadaan semula. Rata-rata pemulihan hutan untuk bisa menjadi hutan primer membutuhkan waktu 100 tahun lebih, bandingkan dengan itung-itungan ala perusahaan yang dilakukan ilmuwan Orde Baru, yang mampu mengkalkulasikan bahwa dalam 35 tahun kemudian hutan yang mereka babat akan kembali seperti semula. Tapi pada akhirnya, kalkulasi ilmuwan "modern" itu meleset, dan membuat luas tutupan hutan semakin berkurang drastis.

Celakanya lagi, dalam penelitian saya, tindakan eksploitasi hutan secara massif dan tuduhan bahwa orang-orang Dayak merusak hutan juga dilindungi oleh ilmuwan-ilmuwan yang sekolah di universitas-universitas negeri "terbaik" di Indonesia. Kejadian ini akan terus berulang selama pola "pembangunan" masih menggunakan sudut pandang orang-orang "kota". Dimana ukuran kesejahteraan dan pembangunan ditentukan dengan banyaknya mall yang dibangun, banyaknya hutan yang dikonversi jadi perumahan, banyaknya orang yang bisa makan direstoran fast food. Pembangunan negeri ini tidak pernah menghitung investasi jangka panjang yang tidak bisa diukur dengan uang sebagai salah satu bentuk keuntungan, seperti konservasi hutan. Konservasi hutan dianggap tidak menguntukan secara politis karena air dan udara bersih yang dihasilkan tidak bisa diuangakan. Akhirnya jangan salahkan televisi dan media, apabila akhirnya anda disuguhi tontonan drama opera sabun para wakil rakyat, dan birokrat negeri ini yang nuraninya sudah hilang entah kemana.

Kaliurang, ditemani kopi robusta 9 Desember 2015.